Jangan Ditelan Sendirian!
"unexpressed emotions will never die,
they are burried alive and will come forth later in uglier way” - Sigmun Freud
Seberapa sering ya kita memendam banyak emosi yang kita rasakan? Perasaan yang sering banget kita anggap sepele dan kayak nggak perlu aja gitu untuk di sampaikan ke pihak yang bersangkutan. Bahkan, buat ceritain perasaan kita ke orang terdekat pun rasanya kayak enggan karena merasa ini berlebihan. Padahal, semua emosi yang kita rasakan itu valid. Nggak ada perasaan yang "lebay". Entah itu perasaan marah, sedih, kecewa, happy. Ya, semua itu boleh kita rasakan dan nggak salah kalau kita ungkapkan.
Tapi, seringnya, aku pun sedikit kesulitan buat mentransfer perasaan itu dalam bentuk lisan. Takut kalau ternyata nanti malah bikin orang yang dengar ceritaku malah sedih atau terbebani. Apalagi kalau harus ceritain langsung ke pasangan/orangtua/sahabat, itu rasanya jauh lebih susah dibandingkan bilang "aku baik-baik aja kok". Kenapa bohong jadi kerasa lebih mudah ya? Padahal banyak aku lihat, orang-orang berani yang bebas ekspresikan emosinya. Bisa nangis sejadi-jadinya, mengamuk, berteriak, untuk lepaskan emosinya. Tapi, aku nggak punya keberanian itu. Aku terlalu takut... jadi manusia gampang badmood yang merepotkan.
Lately, aku menyadari satu hal. Kita tuh sebenarnya selalu punya pilihan loh buat cerita atau pun disimpan sendiri. Bebannya sama besarnya mungkin. Tapi, mana yang membuat kamu lebih merasa aman. Sekalipun dengan cara membohongi diri sendiri atau oranglain. Kamu selalu bisa bilang kalau kondisi kamu baik-baik aja, padahal kamu tau sebesar apa badainya didalam hati dan pikiranmu. Mungkin nggak bermaksud untuk menutupi dari orang terdekat. Tapi, lebih butuh banyak waktu dan juga keberanian untuk sampai akhirnya bisa membagi cerita itu.
Iya, ternyata masalah waktu serta keberanian. Banyak dari kita yang menuntut pasangan buat selalu terbuka apapun kondisi dia. Kadang sampai marah kalau ada cerita yang kita nggak tahu secara langsung dari mulut mereka. Ngerasa nggak dilibatkan, nggak dihargai, nggak berperan. Sampai akhirnya aku lupa, dia juga punya alasan kenapa harus simpan itu sendiri. Setelah dipahami lebih jauh, ternyata ada "ego" disana. Dengan dia cerita masalah itu, ego-nya terluka. Dia nggak lagi merasa istimewa sebagai pasangan. Dia malu sama kondisinya, yang sebenarnya pikiran itu muncul karena dia nggak mau mengecewakan kita sebagai pasangan.
Di titik ini akhirnya aku bisa melihat secara lebih luas. Kalau ternyata, untuk bisa menceritakan kondisi terburuk kita kepada pasangan itu nggak selalu mudah. Ada rasa ingin diterima setelah pasangan tau soal "cerita" itu. Bukan karena dia nggak percaya sama kamu. Tapi, semakin seseorang sayang sama kamu, semakin besar juga keinginan dia buat bikin kamu bahagia dan kalau bisa jangan sampai kamu terluka apalagi karena diri dia sendiri.
Beberapa penelitian ada yang udah jelasin kalau memendam emosi bisa bawa dampak negatif ke tubuh. Walaupun kita ngerasa baik-baik aja, tapi tubuh manusia jauh lebih pintar. Efeknya mulai dari depresi (masalah mental), stroke, serangan jantung dan penyakit lainnya yang jujur aku lupa apa saja. Intinya, terlalu sering memendam emosi memang nggak baik. Tapi, kapan pun kamu butuh waktu untuk cerita, it's okay! Take your time.
Pada dasarnya, kita takut kehilangan. Takut reaksi yang diberikan orang lain ketika dengar cerita kita, nggak sesuai dengan yang kita harapkan. Takut mereka kecewa, berubah, dan akar dari ini semua mungkin karena kita terlalu menjaga perasaan mereka. Tapi, kalimat yang sebenarnya paling mau kita dengar tuh hanya:
"Terimakasih ya kamu udah berani cerita ke aku. Kamu percaya sama aku dan setelah kamu cerita, nggak ada sedikit pun yang berubah dari perasaan aku ke kamu. Kita akan tetap sama, justru semakin menguatkan satu sama lain. Aku terima itu sebagai bagian dari perjalanan hidup kamu. Semoga setelah ini, kita hanya akan hadapi hal-hal baik. Dalam proses panjang-mu kedepannya, aku akan terus didekat kamu kok"
Yah, akhirnya kita menyadari kalau yang sulit dari bercerita, mengekspresikan emosi, itu sebenarnya karena kita takut akan kehilangan. Tapi, orang-orang yang benar sayangi kamu dengan tulus, nggak akan hilang cuma karena cerita jujur mu yang memang agak gelap itu. Mereka akan tetap melihat kamu sebagai individu yang mereka cintai. Selama kamu punya daya juang untuk lebih baik, mereka akan menghargai itu. Kalau mereka memang benar tulus sayang sama kamu. Melepaskan semua yang ada di masa lalu kamu, meninggalkan semua latar belakang yang melekat di diri kamu sejak kecil, semua hal-hal baik buruk dan kotornya di perjalanan hidup kamu. Mereka akan bisa terima.
Comments
Post a Comment