It's me, newest me!
Happy New Year!
Selamat tahun baru 2026.
Yap, 2026.
Pertama kali aku nulis blog itu di tahun 2018 which is saat itu usiaku baru 18 tahun. Bahkan, cerita pertama yang aku share juga tentang perjuangan test masuk Perguruan Tinggi Negeri yang alhamdulillahnya untuk chapter cerita itu aku berhasil happy ending. Ternyata punya jejak tulisan seperti itu tuh berharga banget yaa. Setelah 8 tahun berlalu rasanya kayak bisa lihat Hanny versi 18 tahun lagi menggebu-gebu ngetik cerita tentang perjalanan dia masuk kuliah di kampus negeri. Emang bukan Top 1 University sih, tapi buat Hanny remaja saat itu bisa kuliah aja udah jauuuh banget dari kata cukup. Itu merupakan kesempatan untuk membangun jembatan ke kehidupan yang lebih baik. Buat dirinya dan keluarganya. Memilih buat nekad masuk kuliah negeri saat itu merupakan campur tangan juga dari banyak pihak. Ada hasil keringat Mama yang berjuang kerja banting tulang tanpa malu ngerjain apapun yang Mama bisa. Ada kemurahan hati Uwak juga yang mau sisihin dana buat kuliah-ku. Juga pastinya ada support dari Bapak yang selalu 100% kalau soal pendidikan tanpa pernah matahin harapan aku. Meskipun, mungkin saat itu semuanya serba terbatas. Tapi hebatnya mereka bisa bikin aku tetap jalan maju tanpa harus mengubur mimpi yang tinggi itu.
Masa perkuliahan yang udah berjalan juga nggak selalu mulus. Aku yang dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan itu selalu dihantui rasa takut putus kuliah. Gimana kalau tiba-tiba Mama nggak bisa bayar uang kuliah? Gimana kalau tiba-tiba banyak outing class yang butuh uang banyak dan Mama nggak bisa penuhi? Pikiran itu selalu terbersit dan bikin aku cukup khawatir dengan nasib perkuliahan-ku. Tapi ternyata Allah buka peluang baru buat-ku. "Kerja Part-time." Sebelumnya nggak ada didalam rencana aku. Rasanya itu kayak benar-benar bantuan dari Allah langsung. Walaupun tentu kerja part-time bukan sesuatu yang mudah, ringan, apalagi jauh dari kata capek. Tapi, aku bersyukur banget karena pekerjaan itu satu-satunya yang bikin aku berhasil berdiri di kaki-ku sendiri sampai detik ini.
Dari sana juga aku punya banyak kenangan, peluang, dan pelajaran yang luar biasa banget. Belajar meng-handle costumer asing, serve makanan, bawa minuman pakai tray, bawa piring lebih dari dua, bikin latte art, bikin mocktail, dan bahkan rekap penjualan harian. Kangen banget rasanya interaksi dengan pelanggan asing yang memang rutin makan disana dan sampai akrab sama kita. Selalu nyari kita kalau mereka lagi ke store tuh sesuatu yang sweet banget buat seorang waitress. It means a lot, karena artinya mereka terkesan sama kita. Tapi nggak hanya kenangan manis itu sih yang melekat. Banyak juga kesulitan yang udah dilewatin selama disana, tapi pada akhirnya tetap bermakna karena secara nggak langsung melatih mental untuk selalu kuat menghadapi apapun struggle didepan sana.
Sekarang, setelah 8 tahun berlalu itu, i'm still surviving. Rasanya kayak balik ke titik 0. Pengalaman kerja part-time, lalu kerja di start up selama 2 tahun lebih, dan end up dengan jadi PNS Guru. Is it really the right path? Itu selalu jadi pertanyaan aku. Saat kerja di start up, aku ngerasa kayak nggak ada di koridor karier yang aku mau. Mau-nya jadi Guru. Kelihatannya title itu lebih disegani. Secara skill juga memang lebih kompatibel jadi Guru. Lalu, setelah berhasil jadi Guru malah rasanya "Kok, aku malah switch karier lagi sih? Kayaknya office life tuh udah betul deh." Yah, dan akhirnya pikiran itu selalu jadi perdebatan tanpa henti sampai hari ini. Mungkin karena salary sebagai CPNS Guru nggak sebesar saat kerja di start-up. Mungkin juga karena sekarang udah nggak bisa pakai baju yang beragam dan fashionable untuk ke kantor. Atau mungkin juga karena ternyata jadi Guru, kita harus selalu siap belajar dan beradaptasi setiap hari, sepintar apapun Guru tersebut.
Setidaknya, aku berproses. Aku pernah merasakan kerja part-time kayak di drakor-drakor. Pernah juga kerja di gedung tinggi lantai 42 pakai baju bebas yang selalu bisa ngikutin trend ala wanita karir SCBD. Kerja WFH dan WFA tanpa harus pulang larut malam lagi sambil naik motor sendirian. Setelah itu, bisa pulang semakin sore saat matahari belum sepenuhnya tenggelam. Punya satu gelar "wangi"-setidaknya bagi sebagian besar orangtua yaitu "PNS." Patut disyukuri seberapapun penghasilan yang didapatkan karena semuanya dari hasil kerja keras sendiri.
Terakhir, aku mau bilang terimakasih banyak ke "Hanny 18 tahun" karena kamu nggak menyerah. Bahkan setelah badai covid akhirnya kamu juga tetap bisa bertahan dan bangkit. Ternyata test SBMPTN bukan test terakhir yang kamu coba. Setelah itu masih ada Skripsi, test BUMN, test CPNS, dan Latsar CPNS. Perjuangan kita ternyata bukan sampai bisa masuk kuliah dan lulus tepat waktu. Perjuangan kita sampai menutup mata. Jadi, untuk "Hanny 26 tahun," kalau nanti suatu saat kamu mau putar balik, mengulang semua sesuatu dari awal, jangan ragu ya! Do it scared and just move!
Comments
Post a Comment